BUMINUMBAY.ID, Jayapura – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Papua mengalami inflasi pada April 2026.
Meski terjadi kenaikan harga pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, laju inflasi tetap terjaga berkat penguatan sinergi pengendalian harga bersama pemerintah daerah, Bulog, dan mitra strategis.
Di Provinsi Papua, inflasi bulanan mencapai 0,98% (mtm), dengan inflasi tahunan sebesar 3,80% (yoy). Kenaikan harga ikan tuna, angkutan udara, dan tomat menjadi pendorong utama, sementara penurunan harga daging ayam ras dan emas perhiasan menahan laju inflasi.
Provinsi Papua Selatan mencatat inflasi bulanan 0,94% (mtm), didorong oleh kenaikan harga angkutan udara dan sayuran hijau.
Adapun Papua Tengah mencatat inflasi lebih rendah, yakni 0,21% (mtm), dengan bawang merah dan tomat sebagai penyumbang utama.
Sementara itu, Papua Pegunungan mengalami inflasi bulanan 0,77% (mtm), terutama akibat kenaikan harga angkutan udara, tomat, dan beras.
Upaya pengendalian inflasi dilakukan melalui empat strategi utama:
– Keterjangkauan Harga: Gerakan Pangan Murah (GPM) rutin digelar di Papua dan DOB.
– Ketersediaan Pasokan: Dukungan sarana produksi cabai dan hortikultura bagi kelompok tani di Papua Tengah.
– Kelancaran Distribusi: Fasilitasi distribusi pangan dan koordinasi dengan pelaku usaha untuk mengatasi hambatan logistik.
– Komunikasi Efektif: Edukasi publik melalui media sosial dan literasi harga kepada mahasiswa.
KPw BI Papua menegaskan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan distribusi dan fluktuasi harga komoditas.






