BUMINUMBAY.ID, Jayapura– Upaya penanganan penyakit menular di Papua masih menghadapi tantangan besar. Ketersediaan alat pemeriksaan, akses layanan kesehatan, regulasi, hingga stigma sosial terhadap penderita menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Hal ini mengemuka dalam diskusi yang diikuti Ketua DPD Gerindra Papua, Yanni, bersama sejumlah dokter spesialis, tenaga kesehatan, aktivis, dan perwakilan LSM di Jayapura.
Empat Penyakit Menular Jadi Fokus Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut agenda bersama Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus terkait penanganan empat penyakit menular utama di Papua: HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria, dan kusta.
Para dokter menyoroti kelangkaan alat pemeriksaan HIV dan TBC yang menghambat deteksi dini, sementara prosedur layanan BPJS untuk pasien TBC dinilai terlalu panjang dan berisiko memperlambat penanganan.
“Kalau deteksi dini terganggu, maka seluruh rantai penanganan ikut terganggu. Penyakit menular membutuhkan kecepatan,” tegas Yanni.
Stigma dan Regulasi Jadi HambatanSelain aspek medis, Yanni menekankan bahwa persoalan sosial seperti stigma terhadap penderita HIV, TBC, maupun kusta membuat masyarakat enggan memeriksakan diri.
Ia menilai edukasi publik dan penghapusan diskriminasi sama pentingnya dengan pengobatan.Isu regulasi juga mencuat, khususnya terkait kerahasiaan pasien HIV. Para dokter menjelaskan bahwa mereka terikat aturan untuk tidak mengungkapkan status pasien kepada pasangan.
Yanni menilai regulasi ini perlu dievaluasi demi melindungi hak pasangan yang sehat.“Kalau menyangkut penyakit menular dalam hubungan suami istri, negara juga harus memikirkan hak pasangan yang sehat,” ujarnya.
Tren Kasus dan Edukasi Para dokter memaparkan tren peningkatan kasus HIV di Papua, terutama pada kelompok usia 15–24 tahun akibat perilaku seks bebas. Yanni menilai hal ini sebagai peringatan bahwa edukasi kesehatan reproduksi harus diperkuat.
Ia juga mengapresiasi perkembangan terapi HIV yang memungkinkan pasien mencapai kondisi viral suppression, sehingga risiko penularan menurun drastis. Ancaman TBC LatenDiskusi juga menyoroti TBC laten, kondisi ketika seseorang terinfeksi namun belum menunjukkan gejala.
Yanni menekankan bahwa kebijakan kesehatan harus berorientasi pada pencegahan dan perlindungan keluarga.
“Ukuran keberhasilan kebijakan kesehatan bukan pada tebalnya regulasi, melainkan pada berapa banyak keluarga yang berhasil diselamatkan dari penularan,” tutup Yanni.






