BUMINUMBAY.ID, Jayapura – Anggota Majelis Rakyat Papua dari kelompok kerja atau pokja agama bertemu Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Yanni untuk mengawal bantuan perumahan bagi para tokoh agama di Papua.
Wakil Ketua Pokja Agama MRP, Izak Hikoyabi dalam kesempatan itu menyampaiakan beberapa usulan penting kepada pemerintah pusat sebagai bentuk perhatian terhadap peran tokoh agama dalam menjaga perdamaian dan kerukunan di Tanah Papua.
Simbol Perhatian untuk Tokoh Agama dinilai sebagai pilar perdamaian dan kerukunan umat beragama di Papua. Karena itu, pemerintah diminta memberikan apresiasi nyata, termasuk penyediaan rumah layak huni bagi para pendeta atau tokoh agama.
Selama ini, mereka hanya menempati pastori milik gereja sehingga tidak memiliki tempat tinggal permanen setelah masa pelayanan berakhir.Usulan tersebut mencakup pemberian sertifikat tanah, pelepasan adat, serta dukungan pemerintah agar tokoh agama memiliki jaminan tempat tinggal yang layak.
“Ini bukan hanya untuk tokoh Kristen, tetapi juga Islam dan agama lain. Simbol perhatian ini penting sebagai wujud kerukunan umat beragama di Papua,” ujarnya
Selain itu, muncul dorongan agar Dana Otsus Papua dalam APBN 2026–2027 dinaikkan. Dengan adanya enam provinsi baru di Papua, diusulkan alokasi sebesar 15% dari dana nasional.
Usulan ini didasarkan pada luas wilayah, kondisi geografis, dan jumlah penduduk yang membutuhkan tambahan anggaran.
“Kalau dana itu masuk ke Papua, manfaatnya bukan hanya dirasakan orang asli Papua, tetapi seluruh masyarakat Indonesia yang hidup di Tanah Papua,” tegasnya
Usulan ketiga adalah penetapan Papua sebagai Tanah Injil melalui Keputusan Presiden. Hal ini dianggap penting sebagai simbol spiritual, sama seperti status Aceh sebagai daerah syariat Islam.
Harapannya, keputusan tersebut dapat diumumkan dalam kegiatan Pesparawi Nasional di Manokwari, yang rencananya akan dihadiri Presiden.
Ketiga usulan ini perhatian bagi tokoh agama, peningkatan dana otonomi khusus, dan penetapan Papua sebagai Tanah Injil disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat perdamaian, kerukunan, serta kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua.






