BUMINUMBAY.ID, Jayapura— Masyarakat pengguna jasa kapal Pelni di Papua kini didorong untuk tidak lagi bergantung pada loket dalam membeli tiket. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Jayapura mulai mengarahkan calon penumpang memanfaatkan Pelni Mobile dan kanal perbankan resmi untuk mendapatkan tiket perjalanan.
Perubahan ini bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Pelni ingin membangun sistem pembelian tiket yang lebih transparan, memberikan kepastian harga, sekaligus mempersempit ruang bagi praktik percaloan.
Kepala Cabang PT Pelni Jayapura, Daulat Apul Gervasius Naibaho, mengatakan ke depan loket Pelni secara bertahap akan mengalami perubahan fungsi.
“Pelni berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan dan memastikan keselamatan para pelanggan. Terkait pelayanan tiket, ke depan loket-loket Pelni akan berubah fungsi,” kata Daulat di Jayapura Selasa (5/9)
Menurut Daulat, loket nantinya lebih diarahkan sebagai pusat informasi, layanan pengaduan atau handling complaint, call center, serta melayani kebutuhan tertentu seperti pembelian tiket bagi penumpang dalam jumlah besar atau rombongan.
Sementara transaksi tiket reguler akan semakin diarahkan melalui sistem digital.
Pelni, kata dia, kini terus menggencarkan sosialisasi agar masyarakat terbiasa membeli tiket melalui aplikasi Pelni Mobile maupun layanan mobile banking dari perbankan yang telah bekerja sama dengan perusahaan.
“Kami sedang gencar-gencarnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar membeli tiket melalui Pelni Mobile maupun fitur-fitur mobile banking dari bank yang sudah bekerja sama dengan PT Pelni,” ujarnya.
Perubahan tersebut diharapkan membuat masyarakat lebih mudah mengakses informasi perjalanan tanpa harus datang ke kantor Pelni hanya untuk menanyakan ketersediaan tiket.
Harga Lebih Pasti, Calo Dipersempit
Daulat menilai penggunaan kanal resmi memberikan keuntungan penting bagi calon penumpang. Salah satunya adalah kepastian harga karena nilai pembayaran dapat dilihat langsung dalam sistem.
“Keuntungan pertama, harga yang dibayarkan tentu sesuai dengan nilai atau nominal yang ada di tiket,” katanya.
Selain itu, transaksi melalui kanal resmi juga dinilai dapat mengurangi risiko masyarakat berurusan dengan calo.
“Yang kedua, akan terhindar dari calo,” tegasnya.
Calon penumpang juga dapat memantau ketersediaan tiket, termasuk tujuan dan jadwal pelayaran yang masih tersedia.
“Masyarakat bisa mengetahui tiket masih tersedia atau tidak, tujuan mana yang masih tersedia. Itu dapat dimonitor melalui Pelni Mobile,” jelas Daulat.
Dengan pola tersebut, masyarakat tidak perlu datang ke loket hanya untuk mengetahui apakah tiket pada kapal atau jadwal tertentu masih tersedia.
Jangan Tunggu Tiket Habis
Pelni Jayapura juga mengingatkan masyarakat agar tidak membeli tiket pada saat-saat terakhir, terutama bagi mereka yang sudah memiliki rencana perjalanan.
Daulat meminta calon penumpang merencanakan keberangkatan jauh-jauh hari dan segera melakukan pemesanan melalui kanal resmi.
“Kami meminta kepada masyarakat yang sudah jelas dan sudah terencana mau berangkat, silakan membeli tiket melalui Pelni Mobile. Rencanakan perjalanan Anda jauh-jauh hari,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat tidak memaksakan diri menggunakan jadwal tertentu ketika tiket sudah habis.
“Jangan memaksakan diri. Apabila di Pelni Mobile sudah tidak ada lagi tiket, berarti masyarakat harus mengambil jadwal yang tersedia, mungkin pada jadwal berikutnya,” ujarnya.
Meski mendorong digitalisasi, Pelni Jayapura menyadari tidak semua masyarakat memiliki tingkat pemahaman teknologi yang sama.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena wilayah pelayanan Pelni juga menjangkau masyarakat dari daerah-daerah terpencil yang belum tentu terbiasa melakukan transaksi tiket secara digital.
Karena itu, penerapan perubahan fungsi loket akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan masyarakat.
“Kami akan tetap melihat kondisi, namun akan berusaha untuk memaksimalkan,” kata Daulat.
Menurutnya, ketika penggunaan sistem digital sudah semakin dipahami masyarakat, Pelni akan lebih tegas menerapkan pola pembelian melalui kanal resmi.
“Kalau hal tersebut sudah bisa kami lihat 100 persen, maka kami harus tegas,” ujarnya.
Namun, apabila masih banyak masyarakat yang belum memahami mekanisme pembelian digital, Pelni akan tetap menyesuaikan pelayanan sekaligus memperkuat sosialisasi.
“Kalau masyarakat masih banyak yang mungkin belum paham, kami akan menyesuaikan diri juga. Karena saudara-saudara kita yang mungkin dari daerah-daerah terpencil dan belum memahami hal tersebut harus kami sosialisasikan juga dan harus kami akomodasi,” tuturnya.
Pada akhirnya, transformasi tiket Pelni bukan hanya soal memindahkan transaksi dari loket ke telepon genggam. Pelni ingin memastikan masyarakat memperoleh tiket resmi, harga yang jelas, informasi jadwal yang transparan dan perjalanan yang lebih terencana, sekaligus menutup ruang bagi praktik percaloan.



