Hukum  

20 Hari Bertahan di Hutan, Demerina Akhirnya Diselamatkan dari Penyanderaan

BUMINUMBAY.ID, TIMIKA— Setelah sekitar 20 hari bertahan dalam kondisi sulit di tengah hutan, Demerina Uamang (23), salah satu korban penculikan oleh kelompok bersenjata di Jila, Kabupaten Mimika, akhirnya berhasil dievakuasi ke Timika.

Demerina merupakan satu dari sembilan warga yang sebelumnya dilaporkan menjadi korban penculikan pada 17 Agustus 2026. Ia ditemukan dalam kondisi lemah di Kampung Bela 1, Distrik Alama, Kabupaten Mimika, sebelum akhirnya berhasil dijemput tim gabungan pada Senin (14/9/2026).

Proses penyelamatan Demerina melibatkan Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026, Polres Mimika, tokoh masyarakat, serta kepala kampung setempat. Evakuasi juga mendapat dukungan Ketua MRP Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, S.M.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, S.I.K., M.T., mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil koordinasi berbagai pihak yang sejak awal terus berupaya menemukan para korban.

“Alhamdulillah, hari ini Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Mimika dan dibantu oleh tokoh masyarakat yang ada di Mimika telah berhasil mengevakuasi satu korban selamat atas nama Demerina Uamang,” kata Yusuf, Senin (14/9/2026).

Ditemukan Bersama Rekan yang Meninggal
Informasi mengenai keberadaan Demerina pertama kali diterima aparat pada 7 September 2026 melalui jaringan masyarakat di Distrik Jila.
Seorang kepala kampung dari Kampung Bela 1 kemudian mendatangi Distrik Jila dan melaporkan bahwa masyarakat menemukan seorang perempuan dalam kondisi lemah di wilayah Bela.

Saat pertama ditemukan, identitas perempuan tersebut belum diketahui. Satgas kemudian melakukan investigasi dan identifikasi hingga memastikan bahwa perempuan itu adalah Demerina Uamang, korban penculikan yang terjadi pada 17 Agustus 2026.
Namun, Demerina ternyata tidak ditemukan seorang diri.

Ia bersama seorang rekannya, Yosina. Tragisnya, Yosina ditemukan telah meninggal dunia.
“Adik Uamang ini tidak sendirian. Pada saat ditemukan tanggal 7 September, bersama seorang rekannya, yaitu adik Yosina. Namun, sangat disayangkan, adik Yosina ditemukan telah meninggal dunia karena kondisinya sangat kurus dan tidak mendapat asupan makanan,” ungkap Yusuf.

Menurut keterangan yang diterima Satgas, kedua korban telah bertahan sekitar 20 hari dalam kondisi yang sangat berat.
“Mereka berjuang selama 20 hari di hutan, tidak makan dan minum. Demikian juga adik Demerina Uamang ditemukan dalam kondisi fisik yang lemah,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat Kampung Bela kemudian berinisiatif merawat Demerina hingga kondisinya memungkinkan untuk dievakuasi.
Sementara Yosina telah dimakamkan secara adat oleh masyarakat di Kampung Bela.

Empat Hari Terkendala Cuaca
Proses penjemputan Demerina tidak berlangsung mudah. Tim Satgas Damai Cartenz sebelumnya telah merencanakan evakuasi, namun kondisi cuaca buruk membuat helikopter tidak dapat menembus wilayah tersebut.
“Empat hari yang lalu kita sama sekali tidak bisa masuk ke lokasi karena faktor cuaca yang buruk, sehingga helikopter kita tidak bisa menembus ke sana,” ujar Yusuf.

Kesempatan akhirnya datang pada Senin pagi ketika kondisi cuaca membaik.
Tim gabungan yang terdiri dari personel Satgas Damai Cartenz, tokoh masyarakat dan kepala kampung bergerak menuju lokasi menggunakan helikopter milik Satgas.

Demerina kemudian diterbangkan menggunakan Helikopter Bell Polri P-3002 menuju Timika.
Pesawat tersebut tiba di Landasan Heli Mako Yon B Pelopor Sat Brimobda Papua Tengah sekitar pukul 09.08 WIT.
Langsung Mendapat Perawatan Medis

Setibanya di Timika, Demerina langsung dibawa ke RS Bhayangkara Timika untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan penanganan medis.

“Kita bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara yang ada di Timika untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan untuk mendukung fisiknya agar kembali menjadi baik dan stabil. Sekarang masih dalam proses pemulihan,” kata Yusuf.

Kondisi fisik Demerina yang lemah dan masih mengalami syok membuat polisi belum dapat meminta keterangannya terkait peristiwa yang dialaminya.
“Sementara adik Demerina belum dapat kita minta memberikan keterangan karena kondisinya memang sangat syok. Mungkin dia melihat bagaimana rekannya, adik Yosina, meninggal dunia di sampingnya,” ungkapnya.

Tujuh Korban Lain Masih Dicari
Keberhasilan menyelamatkan Demerina belum mengakhiri upaya Satgas. Masih terdapat tujuh korban lainnya yang dilaporkan selamat dan hingga kini masih dalam upaya penyelamatan.

Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., mengatakan keselamatan korban menjadi prioritas utama dalam setiap langkah yang dilakukan aparat.

“Prioritas kami adalah memastikan korban dapat dijemput dan dievakuasi dengan selamat. Komunikasi dengan semua pihak menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas kamtibmas,” ujarnya.

Ia mengatakan proses penyelamatan membutuhkan koordinasi dan kesabaran karena kondisi medan serta cuaca menjadi faktor yang harus diperhitungkan.

Wakaops Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., menambahkan bahwa proses evakuasi dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan keamanan, kondisi medan, cuaca dan situasi di lapangan.

“Proses penjemputan tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Kami harus memastikan seluruh aspek keamanan dan keselamatan terpenuhi,” katanya.

Keluarga Bersyukur Demerina Selamat
Nelson Mom, salah satu keluarga korban, mengungkapkan rasa syukur setelah Demerina berhasil dijemput dan mendapatkan perawatan di Timika.

Ia mengatakan para korban mengalami kondisi yang sangat berat selama berada dalam penyanderaan.
“Selama dalam penyanderaan, kami mengalami keadaan yang sangat sulit. Kami tidak mendapatkan makanan dan kondisi sangat berat. Kami bersyukur Demerina sekarang sudah berhasil dijemput dan bisa mendapatkan pemeriksaan di Timika,” ujar Nelson.

Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 meminta masyarakat yang mengetahui informasi mengenai keberadaan tujuh korban lainnya segera melaporkannya kepada aparat keamanan atau pihak berwenang.

Masyarakat juga diminta tidak mengambil tindakan sendiri yang dapat membahayakan korban maupun warga lainnya.
Bagi Satgas, evakuasi Demerina bukan sekadar keberhasilan operasi, tetapi menjadi langkah kemanusiaan untuk memastikan warga yang berada

dalam situasi sulit dapat kembali mendapatkan perlindungan dan perawatan.
Upaya penyelamatan terhadap korban lainnya pun terus dilakukan dengan mengedepankan keselamatan, kemanusiaan dan koordinasi dengan masyarakat setempat.