BUMINUMBAY.ID, Jayapura– Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Kabey-Sokoy di Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.
Irene Sokoy, seorang ibu hamil yang tengah menanti kelahiran anak ketiganya, meninggal dunia bersama bayi dalam kandungan setelah mengalami penolakan beruntun dari sejumlah rumah sakit di Jayapura.
Tragedi memilukan ini memicu kemarahan Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, yang menyebut insiden tersebut sebagai “kebodohan luar biasa” dalam sistem pelayanan kesehatan di Papua.
*Perjalanan Panjang yang Berujung Duka
Kisah tragis ini bermula pada Minggu (16/11), ketika Irene mulai merasakan kontraksi di kediamannya di Kampung Hobong. Keluarga segera membawanya menggunakan speedboat ke RSUD Yowari, Kabupaten Jayapura. Namun, harapan akan pertolongan medis pupus ketika pihak rumah sakit menyatakan bahwa dokter tidak berada di tempat.
Kondisi Irene yang semakin memburuk tak kunjung ditangani secara medis.
Menjelang tengah malam, keluarga meminta surat rujukan ke rumah sakit lain. Namun, proses administrasi berjalan lambat. Ambulans baru tiba sekitar pukul 01.22 WIT, membawa Irene ke RS Dian Harapan Waena.
Di sana, mereka kembali ditolak. Ruangan yang disediakan pun disebut gelap dan panas, tanpa adanya tindakan medis.
Penolakan berlanjut di RSUD Abepura, yang juga menolak memberikan pelayanan dengan alasan ketiadaan dokter. Harapan terakhir keluarga tertuju pada RS Bhayangkara di Kotaraja. Namun, di sana mereka kembali dihadapkan pada kendala administratif: kamar BPJS penuh, dan hanya tersedia ruang VIP dengan biaya Rp4 juta sebagai uang muka. Permintaan keluarga agar tindakan medis didahulukan ditolak.
Akhirnya, ambulans membawa Irene ke RSUD Jayapura. Namun, dalam perjalanan, kondisi Irene memburuk. Mulutnya berbusa dan napasnya tersengal.
Keluarga memutuskan kembali ke RS Bhayangkara, namun nyawa Irene dan bayinya tak tertolong. Mereka dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIT, Senin (17/11).
*Gubernur Papua: “Ini Kebodohan Luar Biasa
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri yang mendengar langsung kisah memilukan ini dari Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey—mertua almarhumah—tak kuasa menahan amarah dan kesedihannya.
“Saya mohon maaf dan turut berduka yang mendalam atas kejadian dan kebodohan jajaran pemerintah mulai dari atas sampai ke tingkat bawah. Ini kebodohan yang luar biasa,” tegas Fakhiri saat bertemu keluarga korban di Jembatan Kuning, Sentani.
Fakhiri berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan di Papua. Ia menyatakan akan mengganti seluruh direktur rumah sakit di bawah pemerintah provinsi dan menyoroti buruknya manajemen peralatan medis yang banyak rusak karena kelalaian.
Gubernur Fakhiri juga menyampaikan bahwa dirinya telah meminta bantuan langsung kepada Menteri Kesehatan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan di Papua.
Ia menilai ada “sekat-sekat” yang merusak sistem pelayanan rumah sakit dan berkomitmen untuk meruntuhkannya.
“Saya sudah berulang kali sampaikan, layani dulu pasien, baru urus administrasi. Ini akan saya tegaskan kembali kepada seluruh direktur rumah sakit dan kepala dinas kesehatan,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, seluruh direktur rumah sakit, baik negeri maupun swasta, akan dipanggil untuk menyatukan visi dan misi dalam memberikan pelayanan kesehatan yang manusiawi dan profesional.
Neil Kabey, suami almarhumah, menyampaikan penyesalan mendalam atas perlakuan rumah sakit terhadap istrinya.
“Kalau saat itu di RSUD Yowari ada dokter, saya yakin istri dan anak saya masih hidup,” ucapnya dengan nada sedih.
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi sistem kesehatan di Papua. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan pelayanan publik, nyawa dua insan melayang sia-sia karena kelalaian dan birokrasi yang kaku.






