BUMINUMBAY.ID, Jayapura – Pertemuan dalam kerangka Papua–Australia Connectivity of Ecology (PACE) yang digelar pada 15 Mei 2026 di Nature Park, Port Moresby, Papua Nugini, menghasilkan kesepakatan penting untuk memperkuat kolaborasi regional.
Fokus kerja sama mencakup pengembangan riset, publikasi ilmiah, exchange learning, implementasi program, serta monitoring dan evaluasi lintas negara di kawasan Papua dan Australia.
Pertemuan yang dihadiri sekitar 20 peserta dari universitas, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, WWF, tim Nature Park Papua Nugini, serta perwakilan KBRI Port Moresby, berlangsung konstruktif.
Forum menegaskan pentingnya jejaring berbasis sains dan pengetahuan lokal untuk mendukung pengelolaan bentang alam dan laut berkelanjutan di Pasifik dan Coral Triangle.
Diskusi menyoroti urgensi konektivitas ekologi lintas batas, khususnya dalam konservasi keanekaragaman hayati, pengelolaan spesies migrasi, penguatan kapasitas masyarakat adat, serta tata kelola kolaboratif berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Science Hub sebagai Platform Kolaborasi
Para peserta membahas peluang pengembangan Science Hub sebagai wadah kolaborasi universitas, NGO, pemerintah, dan komunitas.Platform ini diarahkan untuk mendukung riset strategis, publikasi bersama, pengembangan data dan pengetahuan, serta pembelajaran lintas wilayah.
Bupati Pegunungan Bintang, Spei Y Bidana, ST, M.Si, turut hadir dan menekankan pentingnya koneksi alam yang menghubungkan dua negara.
Peran WWF dan Dukungan Diplomasi
WWF berperan sebagai penghubung komunikasi antar pihak, memastikan kemitraan berjalan inklusif dan berkelanjutan. Dukungan WWF diharapkan memperkuat sinergi antara agenda konservasi, pendidikan tinggi, pembangunan daerah, dan kebijakan publik.
Sementara itu, KBRI Port Moresby menyatakan dukungan penuh, termasuk membuka peluang pengembangan proposal dan pendanaan untuk riset kolaboratif terkait konservasi, tata kelola lintas batas, dan pembangunan berkelanjutan.
Sebagai rangkaian kegiatan, kuliah umum digelar di Gedung Teater University of Papua New Guinea (UPNG) dengan sekitar 60 peserta. Forum akademik ini menghadirkan tiga dosen tamu dari perguruan tinggi Indonesia:
– Dr. Melyana Pugu (UNCEN) – Ketua Pusat Studi Indo-Pasifik
– Dr. Ir. Selvi Tebaiy (UNIPA) – Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Hendrikus Hada (UOP) – Wakil Rektor II
Turut mendampingi delegasi, Suzana Wanggai, Plt. Asisten III Setda Provinsi Papua. Materi kuliah mencakup tata kelola lintas batas, pemetaan partisipatif wilayah kebudayaan, Ecosystem Approach to Fisheries Management, serta pengelolaan spesies migrasi.
Diskusi menekankan peran masyarakat adat sebagai penjaga ekosistem dan pemegang pengetahuan tradisional.
Komitmen Pembangunan Berkelanjutan
Kegiatan PACE 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi regional antara institusi pendidikan tinggi, pemerintah, NGO, dan masyarakat.
Tujuannya jelas untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Papua dan Pasifik.






