BUMINUMBAY.ID,Jakarta — Pemerintah Republik Indonesia semakin serius menggarap masa depan digital bangsa. Dalam upaya mewujudkan visi Asta Cita dan mencapai status negara berpenghasilan tinggi pada 2038, Indonesia menempatkan kecerdasan artifisial (AI) berdaulat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.
Hal ini ditegaskan dalam peluncuran _Empowering Indonesia Report 2025_ bertema _“Building Bridges of Tomorrow”_ oleh Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama perusahaan riset Twimbit.
Laporan tersebut memproyeksikan bahwa adopsi AI berdaulat secara strategis dapat menyumbang hingga USD 140 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030 dan mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 6,8%.
Sektor jasa, manufaktur, dan pertanian diprediksi mengalami lonjakan produktivitas signifikan, menjadikan AI sebagai katalis daya saing nasional.
Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, menegaskan bahwa AI bukan sekadar teknologi, melainkan wujud kemandirian bangsa.
“Kedaulatan AI berarti membangun teknologi yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, menjamin etika dan keamanan, serta memberi manfaat merata bagi seluruh rakyat,” ujarnya.
*Lima Pilar Menuju Kedaulatan AI
Laporan ini merinci lima pilar utama:
– Infrastruktur digital yang andal
– Talenta AI berkelanjutan
– Industri AI yang berkembang
– Riset dan pengembangan mumpuni
– Regulasi dan etika yang kokoh
Indonesia diperkirakan membutuhkan investasi USD 3,2 miliar untuk membangun pusat data berbasis energi terbarukan dan memperluas jaringan 5G. Saat ini, AI data center Indonesia hanya mencakup kurang dari 1% pasar global.
Empowering Indonesia Report juga menyoroti kebutuhan 400 ribu talenta AI pada 2030, dengan investasi USD 968 juta untuk pendidikan dan pelatihan.
Indonesia telah menunjukkan kemajuan dengan 364 startup AI dan pendanaan USD 1,08 miliar. Inisiatif seperti Sahabat-AI V2, model bahasa besar (LLM) berparameter 70 miliar yang mendukung bahasa Indonesia dan daerah, menjadi bukti bahwa Indonesia mulai berperan sebagai pembentuk teknologi global.
Manoj Menon, CEO Twimbit, menyatakan, “Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin di era AI berdaulat. Dengan fondasi digital yang kuat dan ekosistem inklusif, Indonesia bisa menjadi pusat pertumbuhan AI di Asia.”
Sementara itu, Vikram Sinha, CEO Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan komitmen Indosat sebagai mitra bangsa. “Kedaulatan AI adalah tentang membangun masa depan yang dimiliki dan dikendalikan oleh Indonesia sendiri,” ujarnya.
Laporan ini ditutup dengan ajakan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat infrastruktur, membangun talenta masa depan, dan menegakkan tata kelola AI yang beretika. Indonesia kini bersiap melangkah dari pengguna teknologi menjadi arsitek peradaban digital yang berdaulat.
Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar mimpi—dengan AI berdaulat, masa depan itu sedang dibangun hari ini.






